Inisiatif Bersama Konsorsium Konsisten Mewujudkan Desa Inklusif

“Selama kurang lebih delapan bulan pelaksanaan Program Peduli Desa tentu banyak capaian, hambatan dan tantangan yang diperoleh. Oleh karena itu selama dua hari ini kita akan mendiskusikan itu. Harapannya selain mendapatkan peta utuh capaian program juga membicarakan rencana pelaksanaan program ke depan. Hal ini penting karena setidaknya selama satu tahun ke depan kita akan terus mengawal agar kelompok terekslusi mendapatkan manfaat atas guliran dana ke desa” Begitu ungkap Donny Setiawan, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Inisiatif, mewakili Konsorsium Peduli Desa dalam sesi sambutan pembukaan lokakarya evaluasi program peduli desa tahap 1 di Hotel Faletehan, Blok M Jakarta Pusat, 18 Januari 2016.

Lokakarya dua hari tersebut merupakan salah satu bagian akhir dari pelaksanaan Program Peduli Desa tahap 1 yang didorong oleh The Asia Foundation (TAF) dan Pemerintahan Australia. Selain itu, Donny menambahkan bahwa Program Peduli Desa merupakan program yang didesain agar kelompok masyarakat terekslusi yang terdiri dari kelompok difabel, lansia, korban pelanggaran HAM, remaja dan anak rentan, dan korban kekerasan agama mampu terlibat dalam proses perencanaan dan penganggaran di desa sekaligus mendapatkan manfaat atas guliran dana ke desa yang cukup besar.

Dari pemaparan para pelaksana program yang tersebar di 12 Kabupaten dan 17 desa didapatkan hasil yang beragam. Bukan hanya cerita keberhasilan masyarakat terekslusi dalam merebut ruang partisipasi dan mendapatkan dana desa namun juga ada beberapa tantangan partisipasi masyarakat yang masih panjang.

Syahbudin Rahman, pelaksana program di Kabupaten Garut menyampaikan bahwa pelaksanaan program peduli desa di Kabupaten Garut mendapatkan sambutan yang positif dari pihak desa. Salah satu buktinya adalah dengan melibatkan kader binaanya dalam tim penyusun RPJMDesa. Dari pelibatan tersebut, kelompok masyarakat terekslusi mendapatkan guliran dana dari dana yang masuk ke desa baik yang berasal dari kabupaten atau nasional. “Ke depan beberapa kegiatan kelompok terekslusi di beberapa desa di Garut sudah ada di pos APBDesa sehingga kelompok terekslusi benar-benar mendapatkan manfaat atas dana yang masuk ke desa” begitu ungkap Syahbudin dalam salah satu sesi lokakarya tersebut.

Inisiatif Bersama Konsorsium Konsisten...Lain di Garut, lain lagi di Kabupaten Jember. Bagi salah satu desa di Kabupaten Jember, kata partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan penganggaran desa merupakan barang baru. Selama ini masyarakat tidak pernah terlibat dan tidak pernah dilibatkan dalam setiap proses penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran desa. Dengan situasi tersebut mendorong partisipasi masyarakat dalam siklus perencanaan dan pengangaran bukanlah hal gampang.

“Perlu proses yang lebih intenstif dan lama untuk mendorong masyarakat mau terlibat dalam setiap musyawarah perencanaan dan penganggaran. Keberanian masyarakat untuk berbicara di depan umum menjadi pekerjaan besar yang pertama kali harus kami ajarkan” begitu ungkap Vina, pelaksana Program Peduli Desa di Kabupaten Jember.

Comments

comments