Tipologi Pembelajaran Sosial Aktor Perubahan Lokal dalam Pemberdayaan Komunitas

Abstraksi

Pergeseran paradigma pembangunan yang mengarah pada pembangunan terpadu berbasis komunitas lokal atau masyarakat setempat (people centered development) yang berkembang sekarang telah menempatkan komunitas untuk terlibat aktif dalam pembangunan dan turut menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Agar dapat terlibat dalam proses pembangunan maka komunitas perlu diberdayakan dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka. Peningkatan tersebut perlu dilakukan agar komunitas memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi masalah, kebutuhan serta cara-cara terbaik yang sesuai dengan kondisi mereka. Hal tersebut bisa didapatkan dari proses pembelajaran sosial. Proses pembelajaran sosial dapat terjadi dalam sebuah proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dalam suatu komunitas. Dalam proses pembelajaran sosial terdapat tipologi pembelajaran yang terbagi kepada tipe belajar dan level pembelajaran. Tipologi ini dapat menunjukan pendekatan pembelajaran seperti apa yang dapat dilakukan dan perubahan apa yang ingin dihasilkan dari proses pembelajaran sosial tersebut.

Pendahuluan

Pergeseran paradigma pembangunan yang mengarah pada pembangunan terpadu berbasis komunitas lokal atau masyarakat setempat (people centered development) mendapatkan momentum pada era otonomi dan desentralisasi. Artinya, daerah otonom mempunyai peluang yang cukup luas untuk melakukan inisiasi dalam penataan ruang dan wilayahnya sesuai dengan aspirasi dan kondisi masyarakatnya. Peluang ini memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk menginisiasi penataan ruang berbasis komunitas yang esensinya adalah pengendalian ruang secara partisipatif. Secara yuridis, peran komunitas dalam penataan ruang sudah diatur dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Hal ini menunjukkan bahwa pelibatan komunitas dalam penataan ruang secara partisipatif merupakan suatu keniscayaan untuk mewujudkan keberlanjutan masa depan wilayah.

Selain itu, peran serta masayarakat dalam pembangunan juga sudah muncul sejak diberlakukannya UUD 1945 dan secara konstitusional telah memiliki acuan yang jelas dan merupakan kewajiban bagi siapapun yang terlibat dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Dalam GBHN juga telah menyebutkan bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup secara bertahap pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki negara dilakukan secara bijaksana sebagai landasan pembangunan tahap berikutnya.

Oleh sebab itu peningkatan peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan termasuk dalam proses perencanaan dan pelaksanaan terutama yang menyangkut secara langsung kehidupan dan masa depan mereka. Oleh karena itu pembangunan berbasis masyarakat yang merupakan pembangunan yang mengacu kepada kebutuhan masyarakat, direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan sebesar-besarnya memanfaatkan potensi sumber daya yang ada dan dapat diakses oleh masyarakat setempat (Theresia, 2014) sangat penting.

Dalam program pembangunan berbasis masyarakat yang melibatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan, pengetahuan tentang apa yang dibutuhkan masyarakat serta kemampuan kelembagaan dinilai sangat terbatas. Untuk itu, upaya pendekatan untuk senantiasa selalu belajar kepada masyarakat melalui pendekatan “prose belajar” dalam proses pembangunan yang terjadi merupakan sebuah keharusan. Selain itu dalam pembangunan berbasis masyarakat, kewenangan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan perlu diimbangi dengan kapasitas atau kemampuan untuk melakukannya. Oleh sebab itu dalam proses pemberdayaan juga terkandung unsur pengembangan kapasitas masyarakat. Pemberian kewenangan dan pengembangan kapasitas mengandung makna pengakuan akan kemampuan masyarakat untuk melakukannya. Berarti juga mengandung perubahan sikap dan pandangan tentang masyarakat yang semula under estimate menjadi adanya pengakuan akan kapasitasnya. (Soetomo, 2011)

Peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan agar memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, kebutuhan serta cara- cara terbaik yang cocok dengan kondisi mereka bisa didapatkan dari proses pembelajaran sosial. Proses pembelajaran sosial dapat terjadi dalam sebuah proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dalam suatu komunitas. Dalam Pembelajaran sosial melibatkan hasil pengetahuan dari memproses informasi atau kejadian-kejadian dan kemudian menggunakan pengetahuan sebagai penyebab perubahan perilaku (Ebrahim dan Ortolano, 2001). Pengetahuan timbul dari pengolahan atau analisis informasi (Edwards 1997 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001) dan juga dari melakukan dan analisis tindakan. Penerimaan pengetahuan juga tidak cukup, pembelajaran sosial juga melibatkan fungsi pengetahuan untuk mempengaruhi praktek atau prosedur berorganisasi (Ebrahim dan Ortolano, 2001).

Pembelajaran sosial melibatkan hasil pengetahuan dari memproses informasi atau kejadian-kejadian dan kemudian menggunakan pengetahuan sebagai penyebab perubahan perilaku (Ebrahim dan Ortolano, 2001). Pengetahuan timbul dari pengolahan atau analisis informasi (Edwards 1997 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001) dan juga dari melakukan dan analisis tindakan. Penerimaan pengetahuan juga tidak cukup, pembelajaran sosial juga melibatkan fungsi pengetahuan untuk mempengaruhi praktek atau prosedur berorganisasi (Ebrahim dan Ortolano, 2001). Dalam proses pembelajaran sosial yang melibatkan hasil pengetahuan dari memproses informasi atau kejadian-kejadian dan kemudian menggunakan pengetahuan sebagai penyebab perubahan perilaku (Ebrahim dan Ortolano, 2001), perlu ditemukenali tipologi pembelajaran yang terjadi. Dengan mengetahui tipologi pembelajaran sosial yang terdiri dari tipe belajar dan level pembelajaran maka perencana yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut akan dapat menentukan pendekatan mana yang dapat dilakukan dalam proses pembelajarannya serta menentukan sebenarnya perubahan apa yang diinginkan dan hal apa saja yang harus diperhatikan dalam usaha untuk mencapai perubahan tersebut.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mengeksplorasi informasi- informasi secara mendalam dari proses pembelajaran sosial komunitas yang terjadi dalam program pemberdayaan komunitas yang dilakukan oleh aktor perubahan lokal di Desa Tarumajaya dan didampingi oleh LSM Perkumpulan Inisiatif. Untuk itu, maka pendekatan kuantitatif dianggap kurang sesuai digunakan dalam penelitian ini karena penelitian ini menitikberatkan pada eksplorasi data dan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran sosial tersebut.

Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi kasus terhadap kasus pembelajaran sosial yang dilakukan oleh aktor perubahan lokal di Desa Tarumajaya Kabupaten Bandung yang didampingi oleh Lembaga Sosial Masyarakat

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini dikumpulkan melalui survey primer dengan menggunakan dua metode pengumpulan data yang terdiri atas observasi dan wawancara. Observasi dilakukan langsung terhadap responden. Sedangkan wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Metode Analisis Data

Selanjutnya tahap analisis data yang dilakukan terdiri atas reduksi data, perumusan analisis, dan penarikan kesimpulan. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis isi terhadap transkrip hasil wawancara untuk mengidentifikasi tipologi pembelajaran sosial aktor perubahan lokal.

Tinjauan Literatur

Pembelajaran Sosial Dalam Mewujudkan Perubahan

Pembelajaran sosial melibatkan hasil pengetahuan dari memproses informasi atau kejadian-kejadian dan kemudian menggunakan pengetahuan sebagai penyebab perubahan perilaku (Ebrahim dan Ortolano, 2001). Pengetahuan timbul dari pengolahan atau analisis informasi (Edwards 1997 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001) dan juga dari melakukan dan analisis tindakan. Penerimaan pengetahuan juga tidak cukup, pembelajaran sosial juga melibatkan fungsi pengetahuan untuk mempengaruhi praktek atau prosedur berorganisasi (Ebrahim dan Ortolano, 2001).

John Friedmann (1987) berpendapat, pembelajaran sosial dimulai dan diakhiri dengan tindakan yang bertujuan. Pembelajaran sosial bersifat majemuk, melibatkan proses yang bergantung pada waktu, selain tindakan itu sendiri (yang dipecah menjadi urutan kegiatan yang berkelanjutan untuk mengubah kenyataan), strategi politik dan taktik (yang memberitahukan kita bagaimana mengatasi hambatan), teori realitas (yang memberitahukan kita seperti apa dunia), dan nilai yang menginspirasi dan mengarahkan tindakan.  Keempat elemen tersebut bersama-sama membentuk praktik sosial (social practice). Praktik dalam hal ini tindakan kolektif warga dan pembelajaran sosial dibentuk sebagai proses yang bersifat korelatif, sehingga proses yang satu berimbas pada proses yang lain. Unsur-unsur dalam skema ini melekat pada proses pembelajaran yang mengalir sebagai upaya untuk mengubah kenyataan melalui praktik. Proses pembelajaran melibatkan pengetahuan aktor dan pengalaman aktor yang berasal dari tindakan. Pengalaman aktor tersebut kemudian memberikan pengetahuan baru bagi aktor, untuk mengarahkan tindakan selanjutnya.

Tipologi Pembelajaran Sosial

Tipologi pembelajaran sosial terdiri dari tipe pembelajaran sosial dan level belajar. Tipe pembelajaran dan level belajar ini dilihat dari pembelajaran sosial yang dilakukan aktor-aktor yang terlibat dalam proses pembelajaran sosial yang terjadi di Desa Tarumajaya.

A. Tipe Pembelajaran Sosial

Tipe pembelajaran menurut Ebrahim dan Ortolano dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Belajar sambil melakukan (Learning by doing)

Dalam learning by doing, pembelajaran berasal dari proses mencoba dan salah (trial and error) yang terjadi berulang. Sebuah organisasi mungkin untuk mengulang kebiasaan yang berhubungan dengan keberhasilan dalam memenuhi target, sebaliknya tidak mungkin untuk mengulang kebiasaan yang berhubungan dengan kegagalan (Cyert and March 1963; Levit and March 1988 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001).

  1. Belajar melalui mengeksplorasi (Learning by exploration)

Dalam learning by exploration, pembelajaran muncul ketika organisasi-organisasi mencari prosedur baru dan ide-ide baru „tanpa mengetahui atau mengantisipasi konsekuensi penuh dari pekerjaan mereka‟ (Sanchez Triana 1998, dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001). Eksplorasi melibatkan „pencarian, variasi, pengambilan resiko, percobaan bermain, fleksibilitas penemuan dan inovasi‟ (March 1991, dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001). Sebuah organisasi dapat mencoba berbagai prosedur baru dan mengadopsinya untuk menemukan yang lebih baik daripada kebiasaannya yang ada sekarang. Terkadang digunakan prosedur atau ide yang belum terbukti atau bahkan dikembangkan prosedur atau ide baru. Sejauh mana sebuah organisasi terlibat dalam bentuk pembelajaran ini sebagian tergantung pada sejarah keberhasilan dan kegagalan organisasi. Kegagalan dalam memenuhi target dapat memicu (atau meningkatkan) pencarian untuk pencarian alternatif, sedangkan keberhasilan dalam memenuhi target biasanya menyebabkan penurunan pencarian dan meningkatkan ketergantungan pada masa lalu (March 1988, dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001)

  1. Belajar melalui meniru (Learning by imitating)

Dalam learning by imitating, organisasi belajar melalui dari satu sama lain dengan mengadopsi kebiasaan, strategi, atau hierarki, atau teknologi dari organisasi lain. Imitasi merupakan salah satu dari sejumlah mekanisme dalam perubahan organisasi, khususnya untuk meniru perilaku organisasi lain (Dimaggio dan Powell, 1983 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001). Penyebaran dari metodologi dan prosedur dari suatu organisasi kepada organisasi lain dapat muncul, seperti contohnya melalui pergerakan personel dan konsultan atau melalui kontak antar organisasi (Biggart 1977 as cited in Levitt and March 1988, dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001). Mimikri kadang digunakan sebagai strategi bertahan oleh organisasi-organisasi untuk menghadapi keadaan yang tidak menentu, dimana mereka melihat kepada aktivitas atau strategi dari organisasi serupa lainnya yang mereka anggap lebih memungkinkan atau lebih sukses (Dimaggio dan Powell, 1983 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001).

B. Level Pembelajaran Sosial

Argyris dan Schon (Argrys 1982, 1992; Argryis dan Schon 1978, 1996 dalam Ebrahim dan Ortolano, 2001) menjelaskan dua jenis level belajar dalam organisasi, yaitu:

  1. Pembelajaran Satu    Putaran    (Single-loop learning)

Belajar dalam satu level (one level of learning) atau dikenal juga dengan istilah single-loop learning menuntun pada perubahan di praktek organisasi dan strategi. Single-loop learning fokus pada efektifitas, bagaimana cara yang paling baik untuk mencapai tujuan dan sasaran sekarang, menjaga performa organisasi tetap berada pada jangkauan nilai dan norma yang ada. Single-loop learning mengarah pada peningkatan performa organisasi tanpa mempertanyakan tujuan eksisting. Single-loop learning dapat terjadi melalui tipe-tipe belajar yang telah dijelaskan sebelumnya. Single-loop learning dapat terjadi melalui melakukan proses trial-and-error secara berulang-ulang (learning by doing), atau melalui proses eksperimen pendekatan baru untuk memenuhi tujuan dan sasaran (learning by exploring) atau dapat juga melalui mengadopsi konsep dan teknologi yang digunakan oleh organisasi lainnya (learning by imitating)

  1. Pembelajaran Dua Putaran (Double-loop learning)

Sementara itu level belajar yang lain adalah double-loop learning yang menuntun pada perubahan nilai yang mendasari praktik dan strategi tadi. Double-loop learning terjadi ketika organisasi mempertanyakan nilai atau premis yang mendasari produk, tujuan  dan  praktek yang mereka lakukan. Dalam beberapa kasus, koreksi terhadap error diperlukan melalui modifikasi nilai dan norma organisasi tersebut. Itulah yang disebut dengan double-loop learning.

Tabel 1 komponen dan indikator pembelajaran sosial

Tabel diatas didapatkan dari literatur yang telah dicantumkan sebelumnya. Dari literatur tersebut didapat 5 komponen dari tipologi pembelajaran sosial beserta indikatornya masing-masing.

Gambaran Proses Pembelajaran Sosial di Desa Tarumajaya

Proses pembelajaran sosial di Desa Tarumajaya secara keseluruhan berlangsung dari tahun 2003 dan masih berlanjut sampai dengan sekarang. Dalam penelitian yang dilakukan, proses pembelajaran di Desa Tarumajaya tersebut dibagi menjadi dua tahapan seperti yang bias dilihat pada gambar 1.

Tahapan proses pembelajaran sosial ini dibagi berdasarkan aktor yang terlibat dan pengetahuan yang diberikan. Aktor perubahan dibagi menjadi aktor yang berasal dari komunitas di Desa Tarumajaya dan juga perencana yang terlibat dalam proses pembelajaran.

Pembagian ini dilakukan karena program pemberdayaan masyarakat di Desa Tarumajaya yang difasilitasi oleh LSM Perkumpulan Inisiatif ini melibatkan aktor perubahan lokal dan perencana yang berbeda, begitu pun dengan pengetahuan yang diberikan.

Tahap pertama proses pembelajaran sosial yang terjadi berlangsung dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2013. Pada rentang tahun tersebut aktor perubahan lokal dari Desa Tarumajaya yang terlibat adalah Kang Heri dan Kang Uus. Sedangkan perencana yang mewakili LSM Perkumpulan Inisiatif yang memberikan pengetahuan kepada aktor perubahan lokal dan lebih sering berinteraksi dengan mereka adalah Abah Juandi.

Gambar 1 proses pembelajaran di desa tarumajaya

Pada tahap pertama proses pembelajaran sosial ini pengetahuan yang diberikan lebih banyak mengenai riset partisipatif, perencanaan penganggaran desa, advokasi, organisasi dan kebijakan, pembuatan RPJM Desa, APB Desa, RKP Desa serta analaisis dan penganggaran daerah.

Setelah tahap pertama, tahap berikutnya dalam program pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi oleh LSM Perkumpulan Inisiatif di Desa Tarumajaya ini adalah tahap kedua. Tahap kedua berlangsung dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2015 ini. Pada tahap ini aktor perubahan lokal dari Desa Tarumajaya yang terlibat adalah Komunitas Institut Gunung Wayang. Sedangkan perencana yang mewakili LSM Perkumpulan Inisiatif adalah para mahasiswa perencanaan wilayah dan kota ITB yaitu Azka, Taufik, Berdi dan Roby.  Pengetahuan yang diberikan pada tahap kedua ini adalah pengetahuan mengenai perencanaan tata ruang desa dan perencanaan tapak  berbasis partisipasi komunitas.

Namun, dalam tulisan ini hanya akan dibahas tipologi pembelajaran sosial aktor perubahan lokal pada proses pembelajaran sosial tahap pertama. Aktor perubahan lokal yang dimaksud disini adalah Kang Heri dan Kang Uus.

Tipe Pembelajaran Sosial Aktor Perubahan Lokal

Pada tahap pembelajaran sosial yang pertama, aktor perubahan local Desa Tarumajaya, yaitu Kang Uus dan Kang Heri, melakukan berbagai macam tipe pembelajaran. Tipe pembelajaran yang mereka lakukan yaitu belajar melalui kegiatan (learning by doing), belajar melalui proses mengeksplorasi hal-hal baru (learning by exploration) dan belajar melalui meniru (learning by imitating).

Belajar melalui kegiatan atau learning by doing yang dilakukan Kang Heri dan Kang Uus dialami melalui berbagai macam kegiatan dalam program yang Inisiatif lakukan di Desa Tarumajaya. Tipe belajar ini dilakukan lewat sebuah proses trial-and-error yang dilakukan berulang-ulang serta pembelajar mendapatkan“temuan‟ melalui proses tersebut

Selain belajar melalui kegiatan atau learning by doing, ada juga tipe pembelajaran melalui eksplorasi atau learning by exploration yang dilakukan Kang Heri dan Kang Uus. Tipe belajar tersebut dilakukan melalui kegiatan analisis anggaran yang mereka lakukan. Dalam menganalisis anggaran Kabupaten Bandung mereka mulai mencoba bereksperimen dan mencari hal-hal baru melalui analisis anggaran Kabupaten Bandung pada berbagai sektor. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang hingga mereka menemukan beberapa prosedur serta mengadopsinya untuk menemukan cara menganalisis yang lebih baik daripada cara analisis yang mereka lakukan sebelumnya.

Satu tipe pembelajaran lagi yang juga dilakukan Kang Heri dan Kang Uus adalah belajar melalui meniru atau learning by imitating. Dalam aktivitas dan kegiatan yang Kang Heri dan Kang Uus lakukan, kebanyakan hal tersebut mereka tiru dari apa yang LSM Perkumpulan Inisiatif tunjukan dan lakukan. Hal tersebut sangatlah wajar mengingat segala bentuk pembelajaran yang mereka terima merupakan pengetahuan baru yang didapatkan dari LSM Perkumpulan Inisiatif.

Level Pembelajaran Sosial Aktor Perubahan Lokal

Level pembelajaran yang dilakukan oleh Kang Heri dan Kang Uus pada proses pembelajaran sosial tahap pertama ini meliputi level pembelajaran satu putaran atau single-loop learning dan level pembelajaran dua putaran double-loop learning. Level pembelajaran satu putaran atau single-loop learning dilakukan oleh Kang Heri dan Kang Uus melalui perubahan- perubahan yang menuntun pada perubahan praktek dan strategi mereka dalam melakukan aktivitas atau tindakan yang terpengaruhi oleh outcome pengetahuan dan proses pembelajaran sosial yang didapat. Perubahan-perubahan tersebut dapat terlihat pada keadaan atau kondisi Kang Heri dan Kang Uus sekarang bila dibandingkan dengan keadaan atau kondisi mereka sebelum mendapatkan pengetahuan dari proses pembelajaran sosial yang mereka alami.

Sekarang Kang Heri dan Kang Uus sudah mengetahui cara mencari dokumen anggaran, cara menyusun RPJM Desa, cara menganalisis masalah dalam komunitas atau lingkungan sekitar, cara mencari data dan fakta untuk memunculkan isu, pengetahuan alternatif tindakan yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah, pengetahuan mengenai analisis lahan kritis dan analisis sosial. Selain itu Kang Heri dan Kang Uus juga merasakan memiliki kemampuan argumen dan penguasaan masalah yang baik setelah mendapatkan berbagai macam pengetahuan dan mengalami proses pembelajaran sosial tersebut.

Perubahan-perubahan yang terjadi dan dialami oleh Kang Heri dan Kang Uus pada level tersebut menuntun mereka pada perubahan praktek dan strategi tindakan yang mereka lakukan. Hal tersebut juga berdampak pada keefektifitasan tindakan Kang Heri dan  Kang Uus dalam menemukan cara yang paling baik untuk mencapai tujuan dan sasaran mereka pada saat itu, yaitu bagaimana menyelesaikan masalah lingkungan sekitar terutama yang berkaitan dengan masalah lingkungan, lahan kritis dan kesejahteraan.

Selain level pembelajaran satu putaran atau single-loop learning, level pembelajaran dua putaran atau double-loop learning juga dilakukan oleh Kang Heri dan Kang Uus. Pada level ini terjadi proses mempertanyakan nilai yang mendasari produk, tujuan dan praktek yang mereka lakukan. Dalam proses pembelajaran sosial yang mereka alami, timbul perasaan untuk membangun lingkungannya lebih besar, keinginan pribadi yang mendorong untuk menganalisis anggaran serta mengintervensi penggunaan anggaran oleh pemerintah daerah. Selain itu muncul juga gagasan baru untuk perbaikan kehidupan social dan upaya untuk mengkritisi kebijakan pemerintah daerah yang tidak pro-rakyat. Pembelajaran yang Kang Heri dan Kang Uus alami juga memunculkan keinginan mereka untuk membentuk sebuah organisasi tani lokal dan wadah pendidikan pemuda khusunya mengenai pertanian di Desa Tarumajaya serta memajukan diri sebagai calon kepala desa untuk menjadi pemimpin pro-rakyat. Kemudian terjadi juga perubahan nilai yang semakin idealis serta diadopsinya filosofi pemikiran LSM Perkumpulan Inisiatif menjadi perubahan nilai yang Kang Heri dan Kang Uus alami.

Pada Level pembelajaran dua putaran atau double-loop learning terdapat peninjauan ulang dari nilai organisasi dan tujuan melalui perubahan dalam kapasitas kognitif, hubungan dari kekuasaan, dan frame persepsi dari organisasi. Perubahan yang Kang Heri dan Kang Uus alami juga melibatkan perubahan- perubahan dalam kapasitas kognitif, hubungan dari kekuasaan serta frame persepsi mereka. Peningkatan kapasitas kognitif dimana munculnya pengetahuan-pengetahuan baru yang sebelumnya mereka tidak miliki  terlihat dari peningkatan pengetahuan mengenai perencanaan desa, terutama hal yang berhubungan dengan penyusunan APB Desa, RPJM Desa dan RKP Desa. Kang Heri dan Kang Uus juga merasa sekarang mereka lebih paham mengenai politik dan anggaran. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap munculnya peningkatan kesadaran Kang Heri dan Kang Uus terkait kebijakan pemerintah.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari penelitian ini, ditemukan bahwa aktor lokal yang terlibat dalam pembelajaran sosial yaitu menunjukan semua jenis tipe pembelajaran dan level belajar. Kang Heri dan Kang Uus melakukan belajar melalui melakukan atau learning by doing, belajar melalui mengeksplorasi atau learning by exploration dan belajar melalui meniru atau learning by imitating. Tipe pembelajaran yang dilakukan oleh actor perubahan lokal tersebut melibatkan proses trial-and-error, proses bereksperimen dan berinovasi serta meniru aktor lainnya.

Selain itu, aktor perubahan local yang terlibat dalam proses pembelajaran sosial di Desa Tarumajaya melakukan level belajar  satu putaran atau single-loop learning dan belajar dua putaran atau double-loop learning. Mereka tidak hanya mengalami perubahan praktik, strategi, peningkatan performa mau pun dapat menemukan cara yang lebih baik dalam bertindak, melainkan juga  mengalami perubahan nilai, tujuan dan frame persepsi yang mendasari tindakan mereka.

Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis memberikan rekomendasi terhadap proses pembelajaran sosial dalam program pemberdayaan komunitas di Desa Tarumajaya yang melibatkan aktor perubahan lokal sebagai berikut :

  1. Proses pembelajaran sosial yang dilakukan hendaknya dilakukan dengan belandaskan nilai, budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas. Selain menciptakan proses pembelajaran sosial yang sesuai dengan karakteristik aktor perubahan lokal dan komunitas, pembelajaran tersebut juga lebih mudah.
  1. Menciptakan hubungan antara perencana dan komunitas yang baik dan menempatkan satu sama lain sebagai aktor yang saling belajar. Sebaiknya dihindari proses pembelajaran sosial yang menunjukan sifat menggurui slaah satu pihak dan menunjukan tendensi untuk menjadi superior dan menjadikan pihak yang lain inferior dalam proses pembelajaran.
  1. Penting untuk menjaga proses pembelajaran sosial berlangsung dengan mengedepankan peningkatan kapasitas, berangkat dari kebutuhan komunitas dan juga berkelanjutan sehingga akan menghasilkan akumulasi pengetahuan. Proses pembelajaran yang berlangsung juga hendaknya melibatkan aktor perubahan lokal dan komunitas untuk menggali pemikiran dan kearifan lokal yang ada dan bisa menjadi sumber pengetahuan dan berpengaruh terhadap perubahan tindakan.
  1. Untuk mendapatkan hasil proses pembelajaran sosial yang baik maka dalam prosesnya hal yang perlu diperhatikan adalah memahamkan komunitas mengenai pentingnya pembelajaran tersebut bagi mereka. Pendekatan yang lebih mudah dapat dilakukan dengan berangkat dari manfaat pembelajaran yang akan berguna bagi mereka secara langsung mau pun tidak langsung.
  1. Proses pembelajaran sosial yang terjadi dalam program pemberdayaan masyarakat di Desa Tarumajaya memberikan penambahan pengetahuan dan keahlian masyarakat terutama aktor perubahan lokal dalam menganalisis dan menyelesaikan masalah di lingkungannya. Proses pembelajaran ini juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat dan bertindak dalam penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Proses pembelajaran sosial seperti ini baik bila diteruskan untuk mengembangkan aktor perubahan lokal sehingga perubahan yang dihasilkan bisa semakin besar. Proses pembelajaran sosial yang sudah berlangsung hendaknya diteruskan dengan cara menambahkan materi-materi baru yang diperlukan masyarakat Desa Tarumajaya untuk menyelesaikan.
  1. Aktor perubahan lokal, yaitu Kang Heri dan Kang Uus yang telah mengalami pembelajaran sosial selama lebih dari 10 tahun terakhir dan telah menerima banyak informasi dan pengetahuan sebaiknya didorong untuk menularkan dan membagikan pengetahuan yang telah mereka miliki ke daerah lainnya. Sehingga manfaat yang didapat bisa menyebar dan menghasilkan perubahan yang lebih besar. Hal ini sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh LSM Perkumpulan Inisiatif, lebih baik lagi jika proses tersebut terus diawasi dan terus.
  1. Proses pembelajaran sosial seperti yang terjadi di Desa Tarumajaya menghasilkan dampak positif yang dapat membantu untuk mengurangi masalah publik yang dihadapi masyarakat. Proses pemberdayaan dan peningkatan kapasitan masyarakat melalui pembelajaran sosial seperti itu sebaiknya dilakukan juga di tempat-tempat lainnya sehingga akan muncul aktor-aktor perubahan lokal yang bertindak untuk menyelesaikan masalah.

 

Daftar Pustaka

Buku

Friedmann, John. 1987. Planning in the Public Domain. USA: Princeton University, Press.

Purnawan, Roby. 2015. Pembelajaran Sosial Dalam Program Pemberdayaan Komunitas. Studi Kasus Pembelajaran Sosial Aktor Perubahan Lokal dan Komunitas di Desa Tarumajaya yang difasilitasi LSM Perkumpulan Inisiatif). Tugas Akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung.

Soetomo. 2011. Pemberdayaan Masyarakat, Mungkinkah Muncul Antithesisnya? Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Theresia, Aprilia. 2014. Pembangunan Berbasis Masyarakat. Acuan Bagi Praktisi, Akademisi,dan Pemerhati Pengembangan Masyarakat. Bandung : ALFABETA

Artikel dan Jurnal

Ebrahim, A & Ortolano, L. 2001. Learning Processes in Development Planning a Theoritical Overview and Case Study. Sage Publications.

Sumber : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 1 SAPPK No.1

Comments

comments