Ujang Sutisna, Melawan Kemiskinan

Ujang Sutisna tahu betul rasanya menjadi orang miskin. Sewaktu kecil, warga Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu terbiasa makan dengan lauk hanya terasi goreng. Bahkan, tulang ikan pun dibakar dan ditumbuk untuk dijadikan teman nasi.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, Ujang harus berjalan kaki hingga enam jam pergi-pulang setiap hari untuk belajar. ”Sampai kelas tiga sekolah dasar, saya belum kenal yang namanya uang. Waktu itu, uang sebesar Rp 100 pun rasanya sudah paling besar,” ujarnya.

Ayahnya yang hanya buruh perkebunan membuat keluarga Ujang sulit beranjak dari cengkeraman kemiskinan. ”Saya pun bertekad, kemiskinan khususnya di pedesaan, adalah musuh yang harus dilawan. Soalnya, saya sudah merasakan sakitnya menjadi orang miskin,” katanya.

Padahal, Ujang menganggap, pedesaan sebenarnya memiliki potensi besar untuk menggerakkan perekonomian nasional. ”Indonesia negara pertanian yang sebagian besar terkonsentrasi di pedesaan. Kalau desa bisa diberdayakan, kemiskinan seharusnya tak akan separah saat ini,” katanya.

Berpijak dari peluang tersebut, Ujang pun terpikir untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayahnya. Ia memulai program penggemukan sapi untuk kurban dengan jumlah awal sebanyak 20 ekor pada tahun 2007. Sapi-sapi itu didistribusikan kepada 10 peternak.

Setiap peternak mendapat dua sapi untuk digemukkan. Modal untuk membeli sapi dikumpulkan dari tabungan pribadi para anggota komunitas yang disebut Forum Agro. Awalnya, mereka kerap berdiskusi, lalu ditawari menjadi donatur.

Ujang pun berupaya meyakinkan anggota Forum Agro yang berjumlah sekitar 100 orang. Mereka akhirnya tertarik untuk terlibat dalam program tersebut. ”Anggota Forum Agro memandang program ini cukup bagus. Bahkan, ada pemimpin pondok pesantren (ponpes) dari Jawa Timur yang terlibat,” katanya.

Program yang berjalan baik membuat jumlah sapi bertambah menjadi 80 ekor pada tahun 2008 dan 120 ekor pada tahun 2009. Jumlah sapi pada tahun 2008 itu termasuk ternak dengan program pengembangan baru, yakni nonkurban atau penggemukan biasa, sebanyak 10 ekor.

Saat ini, jumlah sapi sudah mencapai 270 ekor yang terdiri dari 40 untuk program kurban dan 230 ekor untuk penggemukan biasa. Harga bibit sapi yang siap digemukkan sekitar Rp 5,2 juta per ekor dengan berat 150-170 kilogram. Setelah digemukkan selama sembilan bulan, harga sapi menjadi sekitar Rp 10 juta per ekor dengan berat empat kuintal.

Sistem Bagi Hasil

Program itu melibatkan masyarakat sekitar dengan menerapkan sistem bagi hasil. Menurut Ujang, setiap warga yang menjadi peternak mitra Forum Agro mendapatkan penghasilan sekitar Rp 4 juta untuk dua sapi yang digemukkan. Mereka akan mendapatkan hasil lebih besar jika menggemukkan sapi untuk kurban dengan penghasilan sebesar Rp 5,6 juta.

”Kalau mau, peternak bisa membeli bibit sapi dari uang itu. Bedanya, sapi yang digemukkan milik warga sendiri. Jadi, sifatnya berkelanjutan,” ujar Ujang.

Program yang terus maju membuat Forum Agro sudah mampu menyediakan lemari pendingin untuk menyimpan daging. Tak hanya sapi, menurut Ujang, kemitraan Forum Agro juga merambah peternakan bebek, domba, serta penanaman sengon dan albasia.

Peternak domba mitra Forum Agro memperoleh penghasilan sekitar Rp 600.000 untuk dua domba yang digemukkan selama sembilan bulan. Saat ini, terdapat sekitar 10 domba yang digemukkan. Berat bibit domba sekitar 12 kilogram dan menjadi 40 kilogram jika sudah siap dijual, seharga Rp 1,5 juta.

Sementara dalam program penanaman sengon, warga mulai mendapatkan penghasilan setelah 2,5 tahun. Saat itu, dilakukan penjarangan sengon dengan menebang sebagian pohon. Hasil penebangan dijual dan jika dikehendaki, kayu dapat dibelikan bibit untuk ditanam kembali sehingga menambah populasi pohon. Sengon yang tidak ditebang karena penjarangan dapat dipanen setelah berusia enam tahun.

”Harga kayu sengon yang dapat digunakan untuk kayu lapis dan pulp sebesar Rp 600.000 per meter kubik. Sengon dipilih karena pemeliharaannya tidak susah,” kata Ujang.

Tiga Desa

Program Forum Agro di Kabupaten Bandung sudah menjangkau Kecamatan Ibun, Rancaekek, Cicalengka, Pacet, Pangalengan, Paseh, Cikancung, Banjaran, Arjasari, Cilengkrang, Cimaung, dan Pasirjambu. Di setiap kecamatan, rata-rata ada tiga desa yang melakukan program itu.

”Jangkauannya bervariasi, tapi kalau di Kecamatan Pacet, hampir semua desanya menjalankan program penggemukan sapi,” kata Ujang. Pada tahun 2010, ia berencana merambah tiga kecamatan lagi di Kabupaten Bandung, yakni Kutawaringin, Cileunyi, dan Baleendah.

”Di Kabupaten Bandung ada 31 kecamatan, jadi saya sangat optimistis masih banyak peluang untuk mengembangkan program,” ujarnya.

Program yang turut memberdayakan masyarakat itu dapat diterapkan tanpa bantuan pemerintah. Menurut Ujang, program justru dilakukan secara swadaya mengingat sulitnya mendapatkan dukungan dari pihak birokrasi. Pemohon harus menghadapi prosedur cukup berliku dan proses yang melibatkan banyak pihak. Belum lagi, pelaksana program harus membuat laporan pertanggungjawaban.

”Program pengentasan rakyat dari kemiskinan tak bisa seperti itu, bahkan harus dijauhkan dari prosedur melelahkan. Penerapan program juga harus melibatkan masyarakat,” katanya.

Pengalaman Ujang yang pernah beberapa kali menetap di pondok pesantren turut membentuk pemikirannya untuk menerapkan aktivitas demi kemaslahatan umat. Selama dua tahun, ia sempat tinggal di Ponpes Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan di Surabaya, Jawa Timur.

Sehari-hari, aktivitas Ujang diisi dengan mendengarkan ceramah. Ia kemudian kembali ke Jawa Barat pada tahun 1993 untuk menjadi pengurus Ponpes Hidayatullah di Bandung hingga tahun 1998. Ujang pernah menjadi kepala departemen dakwah dan manajer koperasi As-Sakinah.

Meskipun pengurusnya sehari-hari bergelut dengan program pengentasan rakyat dari kemiskinan, kondisi Sekretariat Forum Agro di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, malah tampak tak begitu dihiraukan. Ketika hujan, atap Sekretariat Forum Agro bocor sehingga meneteskan air. Istri Ujang, Teti Sugiarti, pun harus tergopoh-gopoh menadah tetesan air dengan baskom.

Sumber : Senin, 8 Februari 2010 | 02:46 WIB, http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/08/02463459/ujang.sutisna.melawan.kemiskinan (akses 14/04/2010 17:01:53 WIB)

Comments

comments