PI Bersama KPD Latih Mitra Program Peduli

Bertempat di Yogyakarta, Perkumpulan Inisiatif (PI) bersama Konsorsium Peduli Desa (KPD) melatih fasilitator pelaksana Program Peduli Desa yang berasal dari Kabupaten Sikka, Kulonprogo dan Lombok Utara. Pelatihan yang diselenggarakan dari tanggal 16-19 Mei 2016 tersebut membekali para fasilitator agar  dapat memfasilitasi masyarakat marjinal terlibat dalam proses penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran desa.

PI Bersama KPD Latih .....IMG-20160517-WA0002Dalam sambutan pembukaan pelatihan, Novy Anggriani dari The Asia Foundation (TAF) sebagai lembaga yang mendorong konsorsium melaksanakan pelatihan mengatakan bahwa pelatihan ini sangat penting dalam konteks pelaksanaan Program Peduli Desa yang merupakan program pendukung Program Peduli.

Selain itu, Novy juga mengungkapkan bahwa Program Peduli Desa yang sekarang sedang di jalankan merupakan Program Peduli Desa tahap II. Pada tahap sebelumnya, Program Peduli Desa telah menorehkan beberapa capaian yang cukup signifikan.

Selain menorehkan beberapa hasil signifikan, muncul juga beberapa pembelajaran penting. Pembelajaran pertama, mengenai eksklusi yang dialami kelompok marjinal di desa. Dari kajian pelaksanaan program diketahui bahwa eksklusi sosial yang dialami masyarakat desa lebih disebabkan karena pengabaian dan ketidaktahuan pihak desa dibanding dengan stigma negatif terhadap kelompok yang tereksklusi tersebut.

Pembelajaran selanjutnya mengenai partisipasi masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran desa. Diketahui dari kapasitas kelompok tereksklusi, ada yang bisa berpartisipasi secara langsung dan tidak langsung. Kelompok masyarakat disabilitas dan anak tidak dapat berpartisipasi secara langsung. Sedangkan kelompok masyarakat adat dan korban pelanggaran HAM dapat berpartisipasi langsung dalam proses perencanaan dan penganggaran desa. Selain tipe partisipasi, teridentifikasi mengenai ruang-ruang informal dan formal dalam proses penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran. Dari hasil kajian, diketahui bahwa ruang-ruang informal mempunyai peran penting untuk mendukung proses formal. Ruang-ruang diskusi di luar rapat dan musywarah dipandang efektif dalam menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran yang memihak kepada kelompok marjinal.

Donny Setiawan dari Perkumpulan Inisiatif mewakili KPD menyampaikan bahwa pelatihan perencanaan dan penganggaran ini bukan barang baru. Perecanaaan dan penganggaran desa merupakan materi yang telah banyak dipelajari orang-orang termasuk orang-orang yang menjadi peserta pelatihan sekarang.

Lebih lanjut, Donny menyampaikan bahwa pelatihan yang diselenggarakan sekarang bukan untuk menggurui, namun setelah pelatihan ini selesai para peserta diharapkan dapat lebih memperkuat pengetahuan yang sudah ada serta memperbaiki praktik yang sudah dilakukan.

Di akhir sambutan, Donny mengucapkan terima kasih dan berharap semua peserta dapat mengikuti pelatihan dengan serius dan semoga materi pelatihan bisa bermanfaat untuk menjadikan desa lebih pro terhadap kelompok tereksklusi.

Comments

comments