Antara Aku, SEPOLA dan Jombok

Kamis, 18 Mei 2017 pukul 12.00 WIB tim fasilitator SEPOLA Desa tiba  di Desa Jombok. Tim fasilitator telah diberikan bekal materi di Kabupaten selama sepuluh hari dan TOT (Training of Trainer) selama tiga hari. Kami bergegas menuju lokasi yang bertempat di Balai Desa Jombok. Kami mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 – 24 Mei 2017.

Sesampai di lokasi, saya  yaitu Siti Muzamzamah bersama tim fasilitator Sepola Desa berjumlah lima yaitu Mas Ajar Shidiq, Adib Tamami, Trigus Dodik Susilo dan Arum Sulistyawati, serta satu pendamping dari Inisiatif yang bernama Bu Wulandari menemui para perangkat desa untuk konfirmasi terkait kegiatan SEPOLA Desa. Lalu kami menuju salah satu rumah Ketua BPD Jombok yaitu Bapak Suciono yang rumahnya akan kami gunakan untuk menginap selama enam hari.

Malam itu, tim fasilitator berdiskusi untuk persiapan SEPOLA Desa esok hari mulai dari pemetaan peserta, alur fasilitasi, dan lain-lain. Kebetulan salah satu tim fasilitator yang bernama Mas Ajar Shidiq merupakan penduduk asli Desa Jombok sehingga tim fasilitator mempunyai gambaran sedikit tentang komposisi karakter peserta untuk memudahkan dalam memfasilitasi.

Keesokan hari, sekitar pukul 09.00 WIB kami bergegas menuju Balai Desa Jombok untuk persiapan, mulai dari penataan ruang, properti, penyediaan konsumsi, dan lain-lain. Setelah semua peserta berjumlah 20 orang yang berkomposisikan para warga dan perangkat desa, yaitu 7 anggota Jurnalisme Warga, 4 anggota Karang Taruna, 1 pemuda, 1 Kasi Perencanaan, 1 anggota BPD, 5 Kasun dan Sekdes, serta tamu undangan telah berkumpul, kami pun memulai acara pembukaan. Kata sambutan diberikan oleh Bu Wulandari sebagai perwakilan dari Inisiatif, Bapak Suciono sebagai ketua BPD dan Bapak Sekdes sebagai Wakil dari Kepala Desa Jombok. Waktu itu Kepala Desa Jombok genap tujuh hari meninggal dunia. Syukur Alhamdulillah dalam sambutan beliau, disampaikan bahwa mendukung penuh atas akan terselenggaranya kegiatan SEPOLA Desa ini.

Setelah acara pembukaan selesai, tim fasilitator dengan peserta memperkenalkan diri untuk membangun komunikasi dan chemistry di antara kami. Lalu membentuk kesepakatan dalam pelaksanaan fasilitasi selama enam hari ke depan, mulai dari kesepakatan  waktu. Di situlah kami menawarkan kesepakatan waktu pelaksanaan yang akan dimulai pukul 09.00 – 15.00 WIB. Ada salah satu peserta mengusulkan kegiatan berlangsung pada sore hari dengan alasan bahwa pada pagi hari mereka mencari nafkah untuk keluarga dan kegiatan pribadi masing-masing peserta. Jika acaranya dilaksanakan sore hari sampai malam hari, dirasa lebih enjoy, lebih enak untuk melaksanakan kegiatan tanpa beban kegiatan di rumah. Akhirnya, kami bersepakat untuk mengubah jadwal pelaksanaan dialihkan pada pukul 16.00 – 21.00 WIB. Dan hal itu menjadikan satu poin penting sebagai evaluasi bagi kami dalam penyesuaian rencana fasilitasi dengan lokalitas desa bahwa hal itu merupakan hal urgent yang belum kami pikirkan sebelumnya.

Hari demi hari, malam demi malam, materi demi materi didiskusikan bersama. Canda tawa tak terlupa dalam celah kesempatan untuk meredam ketegangan suasana diskusi. Ketika awal pembukaan juga diskusi selalu ditekankan bahwa tujuan diselenggarakan SEPOLA Desa ini adalah terjadinya perubahan mendasar yang memang seharusnya dilakukan. Seperti halnya, temuan berbagai masalah yang belum juga terselesaikan secara sempurna.

Setelah berdiskusi cukup intens, kami tim fasilitator menemukan berbagai temuan yang dapat ditarik benang merahnya yaitu ketidaktahuan mereka baik pemerintah desa maupun warga terhadap regulasi tentang desa yang terbaru, sehingga banyak temuan curhatan warga yang katanya tidak difungsikan atau bahkan tidak diajak dalam setiap momen dalam rangka pembangunan. Yang lebih miris lagi yaitu pemerintah desa yang tupoksinya di dalam pembangunan, mereka belum sepenuhnya memahami tupoksi mereka sendiri sehingga pembangunan terasa pincang.

Dari hari pertama, tim fasilitator memetakan karakter dari para pemerintah desa dan warga, mulai dari yang ngeyel, reaktif maupun pendiam. Berangkat dari motivasi yang memacu dalam diri masing-masing untuk mengikuti SEPOLA Desa ini. Ketika ada temuan yang berkaitan dengan pemerintah desa, dari pihak pemerintah desa mengklarifikasi terkait temuan tersebut. Seperti halnya temuan kesalahan penulisan SILPA pada banner informasi APBDesa  yang seharusnya 11jt-an, tapi tertulis hanya 1jt-an. Namun sudah diperbaiki dalam LPj (Laporan Pertanggungjawaban).

Dari sisi fasilitasi, tim fasilitator tidak bisa menelurkan teknik fasilitasi yang dilatihkan kala ToT, karena peserta yang belum terkondisikan seperti kala ToT. Tim fasilitator memfasilitasi  lebih pada share informasi terkait regulasi desa, desa membangun, membangun desa, pendampingan dalam membuat sketsa dusun dalam memetakan potensi yang ada, dsb. Dalam diskusi tersebut, para peserta sangat terbantu, dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait hal tersebut, seperti apa lanjutan dari adanya SEPOLA Desa, bahkan 2 dari 5 dusun yang belum melakukan Musdus, menawarkan untuk melaksanakan Musdus  ulang agar sesuai dengan teknik analisis SMART seperti halnya yang dipaparkan tim fasilitator.

Pada pertemuan akhir, forum membentuk tim penyusun RKPDesa sebanyak 9 orang yang terdiri dari Kasi Perencanaan, LPM, Karang Taruna dan Jurnalisme Warga yang nantinya akan mengawal pembangunan dengan memprioritaskan kelompok rentan dalam penyusunan RKPDesa dan terlibat dalam Musrenbang Desa nantinya.

Seusai acara SEPOLA Desa ini selesai, tim fasilitator juga tak lepas tanggung jawab. Tim fasilitator tetap berkomunikasi menjalin tali silaturahmi dengan alumni SEPOLA Desa sambil menanti SK Kepala Desa Tentang Tim Penyusun RKPDesa yang berjumlah 9 orang. Tim ini akan melaksanakan Musdus dan tim fasilitator siap mendampingi setiap event musyawarah desa.

Comments

comments