Mendorong Masyarakat Mengaudit Pembangunan Infrastruktur Air Bersih Pedesaan

Pelaksanaan program penyediaan air bersih bagi masyarakat desa khususnya masyarakat miskin ternyata tidak berjalan semulus laporan pertanggungjawaban yang dipublikasikan.

Indikasi Penyelewengan

Di Kabupaten Bandung, mengacu pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) tahun 2012 terdapat 14 desa yang mendapatkan program penyediaan air bersih berupa pengadaan pipa dan akesesories serta pemasangan pipa dari sumber air ke lingkungan rumah.

Namun, dari hasil kajian cepat yang dilakukan, hanya 11 desa saja yang mendapatkan program tersebut. Sisanya tidak pernah mendapatkan program tersebut.  Pihak desa mengaku tidak pernah mendapatkan program tersebut adalah Desa Ciluluk, Cipinang dan Lamajang.

Selain itu, dari beberapa desa yang mendapatkan program tersebut tidak semua berjalan dengan maksimal. Misalnya, Desa Panundaan. Di desa ini program pengadaan pipa ini memang terealisasi namun pipa yang disediakan hanya setengah dari jumlah yang tertera dalam DPA. Lalu, di Desa Panyocokan program tidak dilaksanakan sampai selesai.

Di Garut, dari hasil kajian cepat yang dilaksanakan, diketahui ada beberapa program penyediaan air bersih yang terindikasi dilaksanakan tidak sesuai perencanaan yang telah dibuat. Ketidaksesuaian itu berkaitan dengan panjang pipa dan jumlah bak untuk hidran umum.

Selain ketidaksesuaian tempat, temuan lainnya adalah perihal partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Dari hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa kebanyakan masyarakat tidak tahu-menahu perihal pembangunan sarana dan prasarana tersebut.

Rangkaian temuan di atas merupakan hasil kajian cepat pelaksanaan program penyediaan air bersih untuk masyarakat miskin di pedesaan yang dilaksanakan oleh Perkumpulan INISIATIF bekerja sama dengan Forum Diskusi Anggaran (FDA) Kabupaten Bandung dan Masyarakat Peduli Anggaran Kabupaten Garut (MAPAG). Hasil kajian cepat tersebut disajikan oleh Odah, dari Perkumpulan INISIATIF pada kegiatan lokalatih program audit sosial air bersih di Kabupaten Bandung dan Garut di Jatinangor, Januari 2014.

Rizki Estrada, koordinator Asistensi Teknis Program Audit Sosial Perkumpulan INISIATIF mengatakan bahwa kajian cepat tersebut merupakan salah satu komponen kegiatan program audit sosial di Kabupaten Bandung dan Garut.

Pelaksanaan kajian cepat tersebut ditujukan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai pelaksanaan pembangunan infrastruktur air bersih pedesaan di Kabupaten Bandung dan Garut.

 Masyarakat Sebagai Auditor

Setelah sesi pemaparan hasil kajian cepat, selanjutnya dilaksanakan refleksi atas pengalaman aktivis MAPAG dan FDA dalam mendampingi masyarakat. Sesi ini difasilitasi oleh Wulandari, Community Development Specialist Perkumpulan INISIATIF.

Dalam salah satu paparannya di sesi ini, Wulandari mengatakan bahwa tujuan penting sesi ini agar semua peserta mampu merefleksikan pengalaman mereka dalam mendampingi masyarakat. Harapannya, setelah sesi ini selesai semua peserta mampu menemukan formulasi penting dalam mendampingi masyarakat untuk melaksanakan program air bersih di Kabupaten Bandung dan Garut.  Hal ini penting karena nantinya seluruh peserta akan menjadi pendamping masyarakat dalam melaksanakan audit sosial pembangunan infratsruktur air bersih di Kabupaten Bandung dan Garut.

Selain itu, Wulandari mengatakan bahwa kerja pendampingan masyarakat bukanlah sebuah kemampuan seperti kemampuan ilmu hitung. Wulandari memandang bahwa kerja pendampingan masyarakat lebih jauhnya lagi adalah sebuah seni dalam berinteraksi dengan masyarakat untuk mencapai sebuah perubahan sosial yang diinginkan secara bersama-sama antara pendamping dengan masyarakat itu sendiri.

Setelah sesi ini selesai, selanjutnya ada sesi penyusunan instrumen audit sosial. Sesi ini difasilitasi oleh Rizki Estrada. Dalam sesi ini, Rizki menjelaskan mengenai komponen-komponen penting dalam pelaksanaan audit sosial.

Setelah pemaparan, Rizki mempersilahkan perwakilan peserta untuk mensimulasikan penyusunan instrumen audit sosial. Setelah draft itu selesai, perwakilan peserta akan mempresentasikan di depan semua peserta untuk mendapatkan masukan dari peserta lain.

Di akhir, sesi lokalatih, Rizki Estrada menyampaikan bahwa lokalatih ini sebenarnya merupakan salah satu langkah penting dalam pelaksanaan audit sosial di Kabupaten Bandung dan Garut. Langkah penting lainnya, akan dialami ketika mendampingi masyarakat di lapangan.

Lebih jauhnya lagi, Rizki memaparkan bahwa tantangan yang sebenarnya bukanlah menjadikan masyarakat sekedar tahu akan apa yang terjadi sebenarnya dalam pembangunan infratsruktur air bersih tersebut, atau sekedar menjadi auditor saja. Tantangan yang sebenarnya justru adalah menjadikan warga masyarakat di desa-desa lebih kritis dan paham akan hak-haknya sebagai masyarakat.

Dengan demikian, ketika masyarakat betul-betul kritis dan sadar akan haknya mereka tidak akan lagi menjadi seperti pemain figuran dalam sebuah film.  Ketika mereka kritis dan sadar akan haknya, maka mereka akan betul-betul menjadi pemain utama dalam setiap pelaksanaan program pemerintah, karena sejatinya masyarakat bukan figuran. Program audit sosial ini merupakan salah satu langkah penting menuju hal itu. Begitu ungkap Rizki kepada semua peserta lokalatih.

Comments

comments